
Majalengka, 7 April 2025 — Pagi itu, Desa Randegan Wetan di Kabupaten Majalengka menjadi pusat perhatian nasional. Di tengah hamparan sawah yang menguning siap panen, Presiden Prabowo Subianto tiba untuk memimpin langsung Panen Raya Padi Serentak. Mengenakan busana safari krem dan topi senada, ia melangkah mantap dari kendaraan dinas menuju lahan panen. Tanpa banyak seremoni, Presiden langsung menyapa para petani dan pejabat yang telah menanti.
Namun yang paling mencuri perhatian justru datang beberapa menit kemudian—saat Prabowo menaiki Combine Harvester Harfia, mesin panen padi modern karya anak bangsa, untuk langsung mencoba alat mesin pertanian dalam negeri.
Di bawah terik matahari, Prabowo melangkah mantap menuju mesin Harfia yang telah disiapkan di petak sawah. Beberapa petugas teknis tampak memberikan arahan cepat sebelum mesin dijalankan. Dengan gaya khasnya, Prabowo langsung memegang kendali pedal, dibantu dua orang teknisi, sementara Menteri Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berdiri di sisi mesin.
Baca Juga:
Cara Memilih Mesin Pertanian Berkualitas dari Distributor Terpercaya
Tak butuh waktu lama, baling-baling combine harvester Harfia mulai berputar, dan mesin buatan dalam negeri itu melaju perlahan memanen padi di lahan yang luas terbentang. Aksi ini pun langsung menarik perhatian kamera dan para petani.
Mesin yang dikendarai Presiden Prabowo adalah Combine Harvester Harfia, produk alsintan (alat mesin pertanian) asli Indonesia. Dirancang oleh tenaga ahli lokal, Harfia menjadi representasi kebangkitan industri pertanian nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Harfia mulai digunakan dalam berbagai program pemerintah—baik untuk proyek food estate maupun bantuan alsintan ke berbagai provinsi. Kehadiran mesin ini dalam Panen Raya nasional menunjukkan posisi Harfia sebagai salah satu brand alsintan unggulan yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah.
Panen Raya ini bukan sekadar acara seremonial. Digelar serentak di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota, kegiatan ini menjadi simbol kolaborasi besar antara pemerintah, petani, dan industri pertanian nasional.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa dengan pemanfaatan teknologi modern dan benih unggul, hasil panen bisa meningkat drastis dari 7 ton menjadi 10 ton per hektar. Ia menyebut momen ini sebagai awal dari Revolusi Hijau Kedua, langkah besar menuju kemandirian pangan.
“Kita tidak hanya ingin swasembada, tapi juga siap bantu negara-negara lain yang kekurangan pangan. Indonesia harus jadi lumbung pangan dunia,” ujar Prabowo.
Dengan dipercaya dalam acara sebesar Panen Raya Nasional, Harfia tidak hanya menunjukkan kualitas teknologinya, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai bagian dari strategi nasional ketahanan pangan.
Langkah Prabowo mencoba langsung mesin Harfia menjadi simbol kuat bahwa produk dalam negeri harus diutamakan, dan pemerintah siap berdiri di belakang industri lokal.
“Kami percaya bahwa alat pertanian bukan sekadar mesin, tapi juga alat perjuangan bangsa. Dan perjuangan itu harus dibekali karya anak bangsa,” tutur Ardi, CEO Harfia Construction Machinery
Bukan hanya gagah di atas mesin Harfia, Prabowo juga tampak menyapa para petani dan berdialog ringan seusai panen. Ia duduk bersama para gubernur, menteri, dan tokoh masyarakat di tenda yang disediakan di pinggir sawah, menegaskan bahwa kebijakan pangan tidak akan dibuat dari balik meja, tetapi dari tanah tempat padi ditanam dan dipanen.
Panen Raya di Majalengka menjadi bukti bahwa Indonesia siap menatap masa depan pertanian dengan percaya diri. Dengan alat mesin pertanian buatan Indonesia seperti Harfia, semangat nasionalisme, dan kepemimpinan yang hadir langsung di lapangan, mimpi besar menuju swasembada dan lumbung pangan dunia bukan lagi angan.
Harfia hadir bukan sekadar sebagai produsen alat, tetapi juga bagian dari gerakan besar bangsa ini untuk bangkit, mandiri, dan berdaulat di sektor pangan.